Rabu, 22 Mei 2013

SMA VAN DUYNHOVEN SARIBUDOLOK SEBAGAI MONUMEN/TUGU HIDUP OPPUNG DOLOK



(Sebuah Sharing Pengalaman Siswa angkatan Pertama 1987/1988)
Nikolas Saragih Munthe
            Perambul….
Terus terang…pada akhirnya saya sangat bangga sebagai alumni SMA DUYNHOVEN. Ada begitu banyak alasan yang dapat diungkapkan untuk menguatkan ini, tetapi yang paling utama adalah karena NAMA SEKOLAH ini sendiri yakni VAN DUYNHOVEN. Berbicara tentang nama DUYNHOVEN di Paroki Saribudolok adalah membicarakan seorang tokoh besar sehingga banyak hal bila dikaitkan dengan nama DUYNHOVEN hampir setiap orang Katolik Saribudolok merasa memiliki dan “mangahap”. Sebut saja misalnya : DUYNHOVEN CUP yakni pekan orientasi OMK (orang muda katolik) yang terdiri dari pekerja muda, mahasiswa dan para pelajar Katolik di Paroki Saribudolok yang diselenggarakan setiap tahun pada awal bulan Juli  di Paroki Saribudolok maupun  SMA VAN DUYNHOVEN. Dan di sini secara khusus mengenang perjalanan awal berdirinya SMA VAN DUYNHOVEN dilihat dari sudut pandang seorang siswa angkatan pertama 1987/1988.
Kesan awal
 Pada awalnya, tidak terlalu gampang menemukan hal yang membanggakan khususnya jika ditinjau dari sisi fisiknya SMA DUYNHOVEN. Kita bayangkan saja, gedungnya belum ada, satu tahun pertama kami sebagai siswa angkatan pertama memakai gedung asrama putra saribudolok yang dekat dengan balai desa di kampung toba sebagai ruang kelas. Bertepatan dengan awal pendirian sekolah ini, saya tinggal di asrama putra mulai dari kelas II SMP Bunda Mulia hingga SMA DUYNHOVEN (1985-1990) sehingga banyak hal tentang asrama dan SMA DUYNHOVEN ini saya ketahui. Pada waktu itu, dua  ruang kelas yang dipakai adalah satu ruang tidur asrama dan satu lagi ruang belajar asrama. Adapun kantor SMA dipakai bekas ruang makan asrama putra. Dengan demikian ruang tidur anak asrama putra  pindah ke gudang yang sebelumnya biasa dipakai untuk  penyimpanan persediaan bahan makanan anak asrama. Sedangkan ruang belajar dan tempat makan anak asrma putra pindah ke asrama putri dan ini adalah situasi yang sangat didambakan anak asrama putra pada waktu itu, maklum gejolak anak muda. Walaupun demikian, prestasi anak asrama putra tidak pernah surut dari biasanya…hehehe.
Sarana penunjang lain juga belum ada seperti laboratorium, sarana ekstra kurikuler seni, olahraga maupun lapangan untuk beraktivitas lainnya belum ada. Untuk upacara bendera biasanya bergabung dengan SD Don Bosco dan SMP Bunda Mulia Saribudolok. Untuk kegiatan olah raga memakai lapangan kecamatan Silimakuta Saribudolok. Pada waktu penataran P4 sistem 24 jam kami memakai ruang makan asrama putri karena ruangan itu satu-satunya yang  dapat memuat siswa 75 orang sekaligus. Para penatar pada waktu itu para guru dari SMA Negeri Saribudolok. Nah kalau lagi istirahat mau jajan atau makan dimana? Kami jajan di warung di luar asrama/ sekolah, untung ada warung dekat sekolah.
Berkaitan dengan para guru pada waktu itu, beberapa orang yang masih saya ingat diperbantukan dari guru SMP Bunda Mulia seperti: Ibu ME Sinaga mengajar matematika dan fisika, ibu S.Sitinjak mengajar bahasa Indonesia,  Sr. Marselina Ginting, SFD mengajar agama dan Bpk. GD. Sipayung, waktu itu beliau Kepala SD Don Bosco, membantu urusan managerial sekolah (tidak tahu tepatnya, karena tidak masuk ke kelas tetapi hampir setiap hari hadir ke sekolah). Selain itu ada juga guru-guru dari SMA Negeri Saribudolok seperti: Bpk. T.Karo-karo mengajar Biologi, Bpk. Ginting mengajar Seni Lukis. Guru yang baru saya kenal pada waktu itu adalah Bpk. Kondan Sipayung mengajar Ekonomi, Bpk. Petrus Sinaga mengajar Bahasa Inggris, Ibu F Tarigan mengajar PPkn (Pkn) dan Bpk. F. Purba mengajar banyak banyak bidang studi: Sosiologi, Sejarah, Olah Raga, Wakil Kepala Sekolah serta Pastor Redemptus Simamora, OFMCap mengajar kesenian. Sedangkan pejabat kepala sekolah adalah Pastor Raymond Simanjorang, OFMCap yang pada waktu itu sebagai pastor kepala paroki Saribudolok.
Apa yang khas????
Bagi saya pribadi kehadiran bapak-ibu guru yang dulu guru saya di SMP Bunda Mulia enak-enak saja karena sudah tahu cara mengajar mereka dan cara untuk menyesuaikan diri. Tapi mucul pertanyaan di dalam hati yang tidak pernah terungkap waktu itu, kecuali sekarang ini yaitu:  pendidikanku sudah naik ke jenjang yang lebih tinggi tetapi kog guru-guruku sama seperti waktu di SMP dulu???? Nah berkaitan dengan guru-guru yang sedang mengajar di kelas saya punya kesan dengan Bpk F Purba dengan suaranya yang keras menggelegar. Bayangkan saja dengan jarak antar kelas 5 meter dengan pintu dan jendela terbuka niscaya kelas sebelah pasti kebagian suara yang sama. Maka sulit menemukan siswa mengantuk di dalam kelas karena kerasnya suara ini ditambah dengan pengetahuannya tentang banyak hal mumpuni untuk ukuran siswa Saribudolok, orang kampung (Parhuta-huta). Mantap Pak F Purba, terima kasih.
Pada awal pendirian ini ada juga orang-orang tertentu yang dengan  sukarela menyumbangkan keahliannya untuk SMA DUYNHOVEN. Salah seorang adalah Bpk. H.Sipayung (orangtua dari Pastor Kornelius Sipayung, OFMCap) yang dengan sukarela melatih kami belajar dihar (silat khas simalungun) yang ditampilkan pada waktu Pesta Rondang Bittang di Haranggaol tahun 1988. Seingat saya latihan pada waktu itu berkisar  tiga bulan dengan jadwal latihan sekali seminggu. Kami dilatih dasar-dasar gerakan silat (lakkah sitolu-tolu) kurang lebih banyaknya 25 orang. Pernah suatu ketika setelah berlatih kira-kira sebulan, secara mendadak panitia kecamatan kontingen kecamatan silimakuta  meminta kami tampil di SMA Negeri. Kami berangkat ke SMA Negeri tanpa kehadiran Bpk H. Sipayung. Kami yang berjumlah 25 orang dikerubuti oleh siswa SMA Negeri yang ratusan waktu itu cukup keder juga. Waktu itu lho ya. Kami sangat tidak percaya diri tampil tanpa pelatih. Kami berusaha supaya  Bpk. H.Sipayung dijemput ke Bandar Hinalang. Kalau jaman sekarang enak, tinggal angkat hp beres. Bapak H.Sipayung pada waktu itu pasti sibuk dengan pekerjaannya. Dan ternyata di tengah pertunjukan datang  Bpk H.Sipayung, wah bukan main senang dan riangnya hati kami, singkat cerita unjuk gigi itu berakhir dengan sempurna. Dan pada saat Rondang Bintang di Haranggaol kami tampil tanpa pelatih seperti pertunjukan gerakan KATA pada seni bela diri karate.
Siswa-siswi pertama….
Bagaimana dengan para siswa angkatan pertama ini??? Siapa-siapa sajakah yang menjadi siswa angkatan pertama SMA DUYNHOVEN??? Sebagian besar memang berasal dari lingkup paroki saribudolok. Saya masih ingat setahun sebelum dibuka SMA DUYNHOVEN hampir pada setiap pengumuman/tingting gereja di paroki dan di stasi-stasi diberitahukan akan dibuka SMA PAROKI…..itu istilah yang sering dipakai pada waktu itu, seingat saya. Siswa yang berasal dari luar paroki juga ada dan yang berasal dari luar gereja Katolik juga banyak bahkan ada satu orang yang muslim.
Seingat saya siswa angkatan pertama ini berjumlah kurang lebih 75 orang orang yang dibagi dalam dua kelas. Saya masih ingat, pada pertemuan pertama dengan semua guru setelah selesai sessi perkenalan pertanyaan selanjutnya adalah: Mengapa kalian mau masuk ke SMA DUYNHOVEN ini?? Kalau dipikir-pikir waktu itu, cukup membosankan juga pertanyaan ini, karena dalam sehari bisa 2 sampai 3 kali ditanyaan oleh guru yang berbeda. Jawaban para siswa pada umumnya adalah: karena sekolah Katolik terkenal disiplin dan jujur disamping jawaban lain. Lalu ketika ada pertanyaan lanjutan: mengapa kalian mau ke sekolah yang gedungnya belum ada dan sekolah baru memulai tahun ajaran baru???? Sulit untuk menjelaskan……..
Torehan istimewa
Kultur atau budaya sekolah  yang diciptakan ada waktu itu cukup baik sebagai wadah penggemblengan para siswa.  Sesama siswa sangat dekat dan akrab. Memang dengan jumlah siswa hanya 75 orang tidak terlalu sulit untuk mengaturnya dibandingkan jumlah siswa seperti sekarang ini. Prestasi-pretasi  yang ditorehkan pada tahun pertama diantaranya: dipercaya oleh kecamatan silimakuta membawakan acara lawak pada waktu rondang bintang di haranggaol dan keluar sebagai juara pertama dengan pelatih utama adalah Pastor Redemptus Simamora, OFMCap. Juara satu bola volley putra dalam rangka memeriahkan HUT RI 17 Agustus 1987 dalam kelompok SMA dan umum. Natalan pertama sangat meriah dengan suguhan atraksi drama, persembahan lagu-lagu semua dilatih oleh Pastor Redemptus Simamora, OFMCap. Tema natalnya adalah: “Akulah Dia yang Kau Tunggu” yang kalau diartikan bisa mengandung dua makna: 1) Kita menantikan Sang Juru Selamat, 2) SMA DUYNHOVEN yang dinantikan telah hadir di tengah-tengah masyarakat.
Vokal group SMA DUYNHOVEN binaan  Pastor Redemptus Simamora, OFMCap pada waktu itu juga bagus. Vokal group ini keluar sebagai group terbaik dalam menyanyikan lagu-lagu perjuangan tahun kedua pada waktu memeriahkan HUT kemerdekaan RI 17 Agustus 1988 dan tampil dihadapan umum di lapangan utama kecamatan Silimakuta untuk menghibur masyarakat umum. Vokal group ini juga sering ikut ke stasi-stasi untuk memeriahkan perayaan Ekaristi padahal para anggotanya tidak semua Katolik. Tema natalnya adalah: “Akulah Dia yang Kau Tunggu” yang kalau diartikan bisa mengandung dua makna: 1) Kita menantikan Sang Juru Selamat, 2) SMA DUYNHOVEN yang dinantikan telah hadir di tengah-tengah masyarakat.
DUYHOVEN = OPPUNG DOLOK
Cikal bakal kehadiran SMA DUYNHOVEN adalah pada waktu pesta Emas (50 tahun ) Imamatnya Pastor Elpidius Van Duynhoven umat paroki Saribudolok yang sangat bergembira mau menobatkan Beliau menyandang sebuah “marga” yang ada di daerah Simalungun. Dan setiap marga berharap, marganyalah yang disandang oleh Pastor Elpidius Van Duynhoven. Jelas tidak mungkin Pastor Elpidius Van Duynhoven memakai dua marga sekaligus apaladi semua marga yang ada di Simalungun. Akhirnya berkat usulan dari seorang tokoh umat yakni Bpk. D.J.Purba yang di Saribudolok lebih dikenal dengan sebutan Doktor Bosi memberi argumen yang kuat bahwa Pastor Elpidius Van Duynhoven sudah pantas diberi gelar “OPPUNG” artinya KAKEK. Karena usianya yang sudah lanjut dan arena sebagian besar waktu dan pejalanan hidup beliau dihabiskan menuruni beribu-ribu bukit dan lembah di Simalungun atas, tanah Karo bahkan sampai di Aceh Tenggara (Lau Belang) dengan pusat di Saribudolok (Saribu = seribu; dolok = bukit-gunung. Bahasa Simalungun) maka pantaslah beliau disebut KAKEK DARI BUKIT-BUKIT = OPPUNG DOLOK dan semua umat setuju dengan gagasan ini. Maka mulai saat itu nama Pastor Elpidius Van Duynhoven resmi dipanggil: OPPUNG DOLOK.
Pada tahun 1986 ketika dilaksanakan Sidang Paripurna (Sermon Bolon) Paroki Saribudlolok timbul pemikiran peserta sidang yakni tokoh-tokoh Umat Katolik agar Pastor OPPUNG DOLOK ini dikenang selamanya oleh masyarakat luas pada umumnya dan umat Katolik khususnya maka diusulkanlah didirikan sebuah Monumen/Tugu OPPUNG DOLOK. Ketika ide ini disampaikan kepada OPPUNG DOLOK beliau tidak berkenan dan menolak untuk dikultuskan. Akan tetapi beliau menyarankan kalau memungkinkan kiranya didirikan/dibangun MONUMEN/TUGU HIDUP  dirinya yakni sebuah sekolah dengan harapan sekolah tersebut mampu mendidik manusia-manusia pewarta Sabda Allah sekaligus manusia pembangun kehidupan yang penuh dedikasi. Usulan beliau ini disetujui seluruh Umat Katolik Paroki Saribudolok. Akhirnya dengan berbagai upaya dan kerja keras Umat, Para Perantau dari Paroki Saribudolok, bekas Anak didik OPPUNG DOLOK dan Para Donatur lainnya Pastor Raymond Simanjorang, OFMCap yang pada waktu itu menjadi pastor kepala Paroki Saribudolok dapat mewujudkan harapan dan cita-cita Umat dan OPPUNG DOLOK.
Demikianlah cikal bakal berdirinya SMA VAN DUYNHOVEN yang saat ini berdiri megah  di jalan Kabanjahe No. 50 Saribudolok, Kecamatan Silimakuta, Kabupaten Simalungun, sekolah kebanggaan kita bersama. HIDUP OPPUNG DOLOK dan siminiknya.
Kini…….(silakan silanjutkan…..)

Catatan:
1.     Sumber tulisan ini adalah Surat Bpk. Albert Sinaga, SPd pertanggal 1 Maret 2003 kepada alumni di Jakarta yang pada waktu itu menjabat  kepala sekolah SMA VAN DUYNHOVEN dan pengalaman pribadi Penulis sebagai siswa angkatan pertama ta. 1987/1988
2.     Sebelum tulisan ini dipublikasikan, penulis sudah terlebih dahulu minta ijin kepada pihak sekolah, dalam hal ini diwakili oleh Bpk. F.Purba (guru pelopor dan pelaksana harian awal berdirinya SMA DUYNHOVEN ini) saat  ini sebagai Pejabat di Yayasan St. Yosep cabang Saribudolok.
3.     Tulisan ini sangat terbuka untuk dikoreksi: dikurangi atau ditambahi oleh siapa saja asal sesuai dengan maksud penulisannya yaitu: PEMBUATAN BUKU TENTANG OPPUNG DOLOK yang saat ini sedang digarap oleh Bpk. Simon Saragih, seorang wartawan senior KOMPAS.
4.     Mohon maaf kepada siapa saja jika ada yang kurang berkenan…..

1 komentar:

  1. Mari kita dukung untuk Simalungun lebih baik....
    https://bonapetruspurba.wordpress.com/

    BalasHapus